Kabar Baik Untuk Petani Budidaya Lobster Indonesia
Kabar Baik Untuk Petani Budidaya Lobster Indonesia
Di post pada: 06 Desember 2020 16:02  -   Waktu baca: 7 menit

Kabar Baik Untuk Petani Budidaya Lobster Indonesia

 

Sumber foto: KKP

Di penghujung tahun 2020, lobster kembali menjadi perbincangan hangat bagi banyak orang. Pro-kontra terhadap kegiatan ekspor benih lobster atau benur terjadi di berbagai lini masa media sosial atau pun pemberitaan melalui surat kabar lainnya. Lobster atau Panulirus sp. merupakan salah satu komoditas marikultur yang tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia dan memiliki nilai jual yang tinggi. Permintaan kebutuhan lobster dari berbagai negara cukup banyak namun hal itu berbalik dengan pertumbuhan lobster yang lambat dan tingkat reproduksinya yang rendah hal itulah yang menjadi faktor mengapa lobster perlu mendapatkan perhatian lebih.

KKP (Kementrian Perikanan dan Kelautan) menyatakan dalam laporannya bahwa lobster termasuk dalam salah satu komoditas unggulan untuk diekspor di berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang ikut memasok kebutuhan lobster di beberapa negara. Tingginya permintaan tersebut menjadi salah satu dorongan yang kuat untuk menghasilkan produksi lobster yang baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Menurut Data FAO (Food and Agriculture Organization) Fisfat yang tercatat dalam laporan KKP, menunjukkan bahwa perbandingan hasil lobster tangkap dan hasil budidaya secara global di tahun 2010 - 2017 masih terlihat sangat timpang yaitu  2.478.645 ton (total hasil tangkap) dan 12.103 ton (total hasil budidaya). Produksi hasil budidaya lobster masih sangat sedikit daripada lobster hasil tangkapan. Untuk itu, sangat diperlukan adanya strategi dan inovasi untuk mengoptimalkan pruduksi hasil budidaya lobster.

Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis lobster yang sering ditemukan. Lobster Batik (Panulirus longipes), lobster Mutiara (Panulirus ornatus), lobster Pasir (Panulirus homarus), lobster Bambu (Panulirus versicolor), dan lobster Batu (Panulirus penicillatus) merupakan jenis lobster yang ditemukan di perairan Indonesia. Dari kelima jenis lobster tersebut, Lobster Pasir dan lobster Mutiara dikatakan sangat potensial untuk dibudidayakan di wilayah Indonesia. Hal ini, dikarenakan dua jenis lobster tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di perairan Indonesia.

Namun, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan, meskipun kedua jenis lobster di atas sangat berpotensi untuk dibudidayakan, tetap harus melihat pasokan benih yang berasal dari alam atau perairan laut secara langsung.

Melalui Permen KP No.12/2020 pemerintah memilki tekad untuk memperkuat dan mengoptimalkan perikanan budidaya serta memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan stakeholders perikanan budidaya. Strategi pemerintah dalam pembangunan perikanan budidaya pada tahun 2020-2024 mencakup empat aspek besar yaitu, peningkatan produksi, peningkatan kesejahteraan, pengelolaan kawasan berkelanjutan dan integrasi lintas sektor.

Salah satu aspek yang saat ini sedang menjadi perhatian pemerintah adalah aspek peningkatan produksi, dalam aspek ini pemerintah memaparkan strateginya untuk mempercepat peningkatan produksi melalui beberapa hal, yaitu:

1. Optimalisasi KJA (Keramba Jaring Apung) yang idle atau tetap, melalui bantuan sarana produksi

2. Rehabilitasi dan revitalisasi unit pembenihan, modernisasi unit pembenihan, penguatan jejaring, dukungan kapal angkut benih, dll

3. Dukungan sertifikasi CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) dan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik)

4. Peningkatan kompetensi SDM pembudidaya ikan skala kecil melalui tempat uji kompetensi (TUK) yang tersedia

5. Pembinaan pembentukan kelembagaan pembudidaya ikan (koperasi, kelompok, UPP

6. Penyusunan pola tebar benih, GERVIKAN (Gerakan Vaksinasi Ikan), monitoring penyakit

7. Rehab akses, fasilitas PLN, pemanfaatan energi terbarukan

8. Diversifikasi kondisi ikan saat dipasarkan hidup, fresh, dan beku

Melalui strategi tersebut diharapkan produksi perikanan budidaya dapat segera meningkat, mengingat kebutuhan produksi budidaya lobster di Indonesia pada tahun 2021 diproyeksikan naik dari 1.377 ton menjadi 2.396 ton dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Peningkatan ini tentunya akan meningkatan kesejahteraan para pelaku budidaya serta pelaku usaha lainnya yang bersinggungan

Strategi percepatan tersebut juga tentunya diiringi dengan inovasi yang ditawarkan Pemerintah. Inovasi tersebut merupakan  implementasi Permen KP No.12/2020 yang tercatat dalam laporan KKP, yaitu:

1. Pembentukan Kelompok

2. Penataan lokasi Budidaya berdasarkan daya dukung.

3. Pengaturan segmentasi usaha yaitu penangkapan benih, produsen kerrang hijau, pembudidaya, penyedia runcah

4. Bantuan sarana prasarana yaitu KJA (tanpa benih dan pakan), sarpras untuk budidaya kerang hijau, fasilitas akswes permodalan, model budidaya oleh UPT

5. Sistem pendataan dan evaluasi online (WA Gateway)

 

Inovasi tersebut bertujuan untuk memperkuat dan mengoptimalkan budidaya lobster dan guna mewujudkan adanya budidaya yang berkelanjutan. Dalam hal ini, pelaku utama budidaya lobster juga akan merasa diuntungkan dengan adanya inovasi yang akan dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, inovasi ini juga tentunya akan memengaruhi pelaku usaha lainnya yang mendukung aktivitas budidaya lobster.

Ditulis oleh: Admin