4 Faktor Penting Untuk Manajemen Kualitas Air Tambak Udang Vaname
4 Faktor Penting Untuk Manajemen Kualitas Air Tambak Udang Vaname
Di post pada: 16 Februari 2020 23:30  -   Waktu baca: 13 menit

4 Faktor Penting Untuk Manajemen Kualitas Air Tambak Udang Vaname

 

Pada setiap budidaya udang vaname, pengelolaan kualitas air menjadi pertimbangan utama terutama di tambak dengan tingkat populasi yang tinggi. Penurunan kualitas air dapat mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname.

Air yang berkualitas baik dapat menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang. Berikut ini parameter yang dapat Anda gunakan sebagai indikator dalam mengukur tingkat kualitas Air tambak udang vaname.

 

1. Parameter Kimia

Parameter pertama yang bisa Anda jadikan indikator dalam mengukur tingkat kualitas Air tambak udang vaname adalah parameter kimia. Diantaranya adalah potensi redoks, kadar oksigen terlarut, kadar karbondioksida, tingkat alkalinitas, kesadahan air, dan kandungan bahan organik.

 

a. Potensi Redoks

Potensi redoks merupakan indikator tingkat oksidasi atau reduksi zat. Nilai rendah adalah indikator reduksi sedimen yang kuat, yang terkait dengan pembentukan metabolit toksik, kondisi hipoksia atau anoksik, dan nilai pH rendah. Di kolam, kisaran potensi redoks potensial adalah 500 hingga 700 mV untuk air dan 400 hingga 500 mV untuk sedimen.

 

b. Oksigen Terlarut

Pemeliharaan tingkat oksigen terlarut yang memadai dalam air tambak sangat penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Dalam kebanyakan kasus, penipisan oksigen sering mengakibatkan kematian massal (anoxia)  udang vaname. Hal ini umum terjadi dalam kultur udang yang intensif (padat populasi).

Oksigen terlarut dalam air tambak sebagian besar datang sebagai produk sampingan dari fotosintesis. Sumber lainnya adalah dari difusi udara atmosfer. Jumlah oksigen terlarut dalam air tambak dipengaruhi oleh banyak faktor terutama suhu air, respirasi dan tingkat bahan organik. Di tambak udang tropis, tingkat oksigen dalam air tambak biasanya rendah karena suhu yang lebih tinggi. 

Pada siang hari, lebih banyak oksigen dihasilkan melalui fotosintesis daripada dikeluarkan dari air oleh respirasi hewan. Pada malam hari, baik tumbuhan dan hewan terus bernafas sementara oksigen ditambahkan ke air hanya dari atmosfer. Dalam beberapa kasus, permintaan pernafasan dalam keadaan tertentu menyebabkan penipisan total oksigen terutama pada waktu fajar menyebabkan anoksia pada hewan yang dibiakkan.

 

c. Karbondioksida

Ketika konsentrasi oksigen terlarut rendah, maka kadar karbon dioksida dapat menghambat masuknya oksigen kedalam air tambak. Kisaran normal karbon dioksida adalah dari 1 hingga 10 mg / l.

 

d. Alkalinitas

Alkalinitas yang berlebihan (nilai pH> 9,5) juga dapat merusak pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Di kolam yang terlalu kaya fitoplankton, pH air kolam biasanya melebihi 9,5 pada sore hari. Namun, saat fajar, pH biasanya lebih rendah. Pertumbuhan plankton yang berlebihan dapat diperbaiki dengan pertukaran air.

 

e. Kesadahan Air

Kesadahan air adalah jumlah kadar mineral yang terkandung dalam air. Hal ini sangat berhubungan dengan keasaman air. Kultur udang vaname dapat berkembang dengan baik dan dengan pH  6 – 9 dan kesadahan air yang stabil.

 

f. Bahan Organik

Bahan organik dapat memicu keluarnya karbon dioksida dan nitrit diakibatkan aktifitas metabolisme dan pembusukan dalam air. Kadar bahan organik maksimum adalah sebesar 88,4 mg/l .

 

2. Parameter Fisika

Parameter kedua yang bisa Anda jadikan indikator dalam mengukur tingkat kualitas Air tambak udang vaname adalah parameter fisika. Diantaranya adalah cahaya matahari, suhu,kecerahan &kekeruhan, warna air, konduktifitas, hingga salinitas

 

a. Cahaya Matahari

Cahaya adalah salah satu  faktor utama untuk budidaya organisme akuatik. Beberapa penelitian telah menyelidiki peran cahaya matahari pada perairan dan menemukan perbedaan yang signifikan dalam perilaku, nutrisi dan pertumbuhan budidaya organisme akuatik seperti ikan, udang, dan sebagainya. 

Beberapa studi menunjukkan sinar matahari sangat mempengaruhi kelangsungan hidup dan tingkat pertumbuhan larva. Parameter seperti tingkat spektrum dan lamanya periode cahaya memiliki efek yang cukup besar pada pertumbuhan, kelangsungan hidup, kematangan seksual, regenerasi organisme akuatik. lamanya periode cahaya optimal yang dibutuhkan yakni 12 jam penyinaran.

 

b. Suhu

Suhu air memainkan peran yang sangat penting dalam mengatur aktivitas hewan yang dibudidayakan. Laju reaksi kimia dan biologis dikatakan meningkat dua kali lipat setiap kenaikan suhu 10 ° C. 

Ini berarti bahwa organisme akuatik akan menggunakan oksigen terlarut dua kali lebih banyak dan reaksi kimia akan berkembang dua kali lebih cepat pada 30 ° C daripada 20 ° C. Oleh karena itu, kebutuhan oksigen terlarut dari spesies air lebih tinggi di hangat daripada di air dingin.

 

c. Kecerahan & Kekeruhan

Kecerahan & kekeruhan air dalam sistem akuakultur juga merupakan indikator kualitas air yang penting. Kecerahan &kekeruhan dipengaruhi oleh kerapatan zooplankton dan fitoplankton di dalam air dan juga partikel tersuspensi seperti feses dan pakan yang tidak dimakan.

Kekeruhan mempengaruhi tingkat penetrasi cahaya yang berpengaruh pada fotosintesis dan karenanya pertumbuhan alga. Kolam yang sangat keruh memiliki penetrasi cahaya yang dangkal yang menurunkan suhu serta aktivitas fotosintesis. Kolam yang sangat keruh sering mengalami penurunan jumlah alga tumbuh di dasar kolam sebagai makanan alami udang vaname. 

 

d. Warna Air

Warna air yang muncul di bawah sinar matahari dan terbentuk dari mikroorganisme, zat terlarut, dan mineral. Faktor utama yang menyebabkan perubahan warna air adalah variasi dan fluktuasi jumlah mikroorganisme, terutama fitoplankton. 

Peran Mineral juga bertanggung jawab atas warna air yang ada, Warna merah dan coklat disebabkan oleh zat besi. Warna hitam terbentuk dari mangan atau bahan organik. Sedangkan  kuning untuk bahan organik terlarut seperti tanin, Besi dan .

 

e. Konduktivitas

Konduktivitas dapat dengan cepat diukur untuk memberikan penilaian terhadap konsentrasi total ion terlarut. Konduktivitas tambak udang vaname adalah 500 hingga> 5.000 mmhos / cm.

 

f. TDS & TSS (Padatan Total, Terlarut dan Tersuspensi)

Total padatan terlarut (TDS) mengacu pada jumlah padatan terlarut (termasuk mineral, garam atau logam) dalam air. Dengan kata lain, semua bahan organik dan anorganik yang terlarut dalam air. Ini adalah parameter yang sangat berguna bagi pemelihara udang. Karena itu dapat digunakan sebagai cara menentukan frekuensi kapan saatnya melakukan pergantian air. Nilai ideal tambak udang vaname berkisaran di angka 150-200 ppm.

 

g. pH dan Salinitas

PH air tambak menunjukkan kesuburan atau potensi produktivitasnya. Air dengan pH berkisar antara 7,5 hingga 9,0 umumnya dianggap cocok untuk produksi udang. Pertumbuhan udang terbelakang jika pH turun di bawah 5.0. Air dengan pH rendah dapat diperbaiki dengan menambahkan kapur untuk menetralkan keasaman.

 

h. Salinitas

Karena tingkat penguapan yang tinggi di beberapa negara, konsentrasi garam di kolam secara bertahap meningkat selama bulan-bulan musim panas. Salinitas dapat meningkat hingga melebihi 40 ppt dan dengan demikian memperlambat pertumbuhan. Dalam kasus seperti itu, air harus selalu dijaga selama bulan-bulan musim panas agar sesuai dengan peningkatan salinitas atau air harus sering diubah baik dengan pompa atau melalui pertukaran pasang surut.

 

3. Parameter Biologi

Parameter ketiga yang bisa Anda jadikan indikator dalam mengukur tingkat kualitas Air tambak udang vaname adalah parameter biologi. Diantaranya adalahmikroorganisme dan bakteri patogen.

 

a. Mikroorganisme

Organisme makanan alami dibiarkan tumbuh di kolam yang dipersiapkan dengan baik dengan pupuk organik atau anorganik. Organisme makanan ini dalam bentuk ganggang bentik biru-hijau, diatom, ganggang hijau dan berbagai spesies zooplankton mikroskopis dan mikrobenthos berfungsi sebagai makanan alami udang budidaya. 

Lumut dapat ditanam di salinitas rendah yang kompatibel dengan kondisi pertumbuhan udang. Organisme hidup lainnya yang melekat pada lumut juga dimakan oleh udang. Ikan herbivora sering ditebar untuk mengontrol kepadatan lumut di kolam.

Pemupukan di tambak mendorong pertumbuhan tanaman mikroskopis yang dikenal sebagai fitoplankton, produsen utama ini berfungsi sebagai makanan utama zooplankton dan organisme bentik yang pada gilirannya menjadi makanan udang. Kehadiran warna hijau kekuningan dalam air tambak menandakan pertumbuhan yang baik dari organisme organisme planktonik yang diinginkan yang kondusif untuk pertumbuhan udang.

 

b. Mikroba Patogen

Bakteri patogen menyebabkan berbagai wabah penyakit menular karena dapat bertindak sebagai patogen primer dan sekunder. Dalam ekosistem tambak udang bakteri patogen seperti vibrio mengandung patogen negatif . Bacillus dapat melawan bakteri vibrios. Mereka juga membantu menjaga keseimbangan mikroflora yang sehat.

 

4. Manajemen Pemberian Pakan

Manajemen pemberian pakan juga berpengaruh terhadap kualitas air tambak, maka dalam pembagian porsinya disesuaikan dengan situasinya seperti berikut ini,

  • Pada saat hujan dan cuaca berangin, pemberian pakan sebesar 50% sampai 60% atau menunggu intesitas hujan mulai reda.

  • Saat molting sekitar pH <8 atau 8 - 9 maka rekomendasi pakan sebesar 30% pada siang hari, 50% pada malam hari dan 110% di pagi hari.

  • Adanya bloom plankton yang masif maka secara 3 hari pemberian pakan mencapai 70% hingga bloom plankton berkurang

  • Ketika planton drop pemberian pakan sebesar 50% sampai kecerahan berkurang akibat oksigenasi dan mikroorganisme

  • Pada saat amonia mulai meningkat berikan 60-70% hingga berkurang amonianya

  • Perubahan cuaca secara dratis berikan 70-80% dan suhu kurang dari 25°  C sampai lebih dari 34° C hingga suhu turun kekondisi optimal seperti 26°  C sampai 32°  C

Ditulis oleh: Admin