Budidaya Perikanan: Apa Perbedaan Monokultur dan Polikultur?
Budidaya Perikanan: Apa Perbedaan Monokultur dan Polikultur?
Di post pada: 07 April 2021 15:57  -   Waktu baca: 6 menit
Sistem budidaya monokultur dan polikultur dalam sektor perikanan ini dilakukan dalam rangka efisiensi dan optimalisasi penggunaan lahan yang semakin hari semakin terbatas. Kedua sistem ini sudah banyak yang menerapkan oleh masyrakat umum dan para akademisi juga tidak sedikit yang menjadikan kedua sistem ini sebagai objek penelitian. Yuk simak apa saja perbedaan kedua sistem ini.

Sejarah perikanan budidaya atau akuakultur di dunia sudah dimulai sejak 2000 SM yang artinya kegiatan budidaya telah berlangsung selama kurang lebih 4000 tahun lamanya. Budidaya ikan dikenal pertama kali di negeri China lalu berkembang dan tersebar ke banyak negara, salah satunya Indonesia. Perkembangan awal budidaya air payau tercatat pertama kali di Indonesia lalu tersebar ke negara-negara tetangga, seperti Thailand, Taiwan, Malaysia dan Filipina.

Terlepas dari sejarahnya yang sangat panjang, kegiatan budidaya menjadi salah satu sumber penghidupan bagi banyak orang. Perikanan budidaya membantu mencukupi kebutuhan pasokan ikan baik skala lokal maupun global. Dari segi lingkungan, kegiatan perikanan budidaya yang ramah lingkungan menjadi salah satu cara dalam mencegah kepunahan biota akuatik yang terancam akibat penangkapan yang berlebihan dan/atau lingkungan yang telah mengalami kerusakan.
 
Kini, perikanan budidaya semakin gencar untuk dikembangkan. Hal ini terlihat dari program-program yang dilayangkan oleh pemerintah melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan. Dirjen Perikanan dan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan bahwa target produksi perikanan budidaya tahun 2021 naik 1,03 juta ton dari target produksi tahun sebelumnya, yaitu menjadi 19,47 juta ton yang terdiri dari ikan 7,92 juta ton dan rumput laut 11,55 juta ton. Sejumlah program seperti pakan mandiri, broodstock center, bantuan induk dan benih unggul serta bantuan lainnya yang bertujuan untuk memajukan perikanan budidaya kedepannya. 

Perikanan budidaya secara istilah diartikan sebagai kegiatan memelihara biota akuatik dalam suatu lingkungan yang terkontrol yang bertujuan untuk meraih keuntungan.  Dalam praktiknya, kegiatan perikanan budidaya ini banyak macamnya, seperti sistem monokultur dan polikultur. Kedua sistem perikanan budidaya tersebut sudah banyak diterapkan oleh masyarakat pada umumnya.  

Sistem budidaya monokultur adalah sistem yang menerapkan hanya memelihara satu jenis biota akuatik atau satu jenis komoditas saja. Sedangkan, pada sistem budidaya polikultur jumlah jenis biota akuatik yang dipelihara lebih dari satu jenis. Lalu, mana yang lebih menguntungkan, sistem monokultur atau polikultur?

1. Optimalisasi Lahan
Monokultur menerapkan sistem optimalisasi lahan hanya dengan memelihara satu jenis komoditas saja. Hal ini ditandai dengan perlakuan padat tebar yang sangat tinggi. Meskipun begitu, pada sistem budidaya polikultur pun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan padat tebar. Tentunya hal ini harus diperhitungkan lebih dulu agar kedua jenis komoditas bersaing baik untuk keberadaan pakan dan ruang. 
2. Efisiensi Penggunaan Lahan
Sistem budidaya polikultur diterapkan agar dapat mengefisienkan penggunaan lahan untuk memelihara lebih dari satu jenis komoditas, seperti memelihara udang, bandeng dan rumput laut dalam lahan yang sama dan dalam waktu yang bersamaan.  Pada sistem polikultur, pelaku usaha perikanan memungkinkan untuk menambah penghasilannya melalui sistem polikultur tanpa harus memperluas lahan untuk melakukan budidaya. 
3. Biaya
Biaya yang dikeluarkan pada kedua sistem ini tentunya akan berbeda. Pakan, merupakan salah satu variabel pengeluaran pada kegiatan budidaya akan lebih banyak pada sistem polikultur dibandingkan sistem monokultur. Pada sistem polikultur, pakan yang digunakan akan lebih dari satu jenis menyesuaikan komoditas masing-masing yang dipelihara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa biaya yang dikeluarkan pada sistem polikultur akan lebih besar dibanding sistem monokultur. 
4. Keuntungan
Keuntungan pada sistem budidaya polikultur cenderung akan lebih besar dibanding sistem budidaya monokultur yang hanya memelihara satu jenis komoditas saja. Penggunaan lahan yang efisien pada sistem polikultur akan memberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau penghasilan yang lebih.
5. Risiko
Masing-masing sistem memiliki risikonya yang berbeda-beda. Diversifikasi jenis komoditas peliharaan dinilai dapat memperkecil peluang risiko kegagalan. Sehingga, sistem polikultur dinilai memiliki risiko lebih kecil dibanding sistem monokultur. Meskipun resikonya kecil, namun sistem polikultur ini memerlukan perhatian lebih, karena dalam praktiknya sistem polikultur sedikit lebih menantang dibanding sistem budidaya monokultur. Pada sistem polikultur, kita perlu mengatur lingkungan sedemikian rupa agar tidak terjadi persaingan antar komoditas dari sisi pakan, tempat tinggal dan lainnya. Hal ini dilakukan agar kedua komoditas tidak terganggu dan tidak menghambat proses produksinya. Hal ini yang kadang membuat petani enggan berpindah dari sistem monokultur ke polikultur. 

Perbedaan masing-masing sistem tersebut bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan sistem budidaya apa yang akan dipakai oleh petani. Semoga bermanfaat!. 

Daftar Pustaka

Herminio R. Rabanal. History Of Aquaculture. Diakses pada April 5, 2021, dari http://www.fao.org/3/ag158e/AG158E01.htm 

Huniyah A, Alamsjah M.A., & Pursetyo K.T. (2015). Analisis finansial pembesaran ikan bandeng (Chanos chanos) pada tambak tradisional dengan sistem monokultur dan polikultur di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 7(2), 169-176.

Husain T.K., Mulyo H., Jamhari. (2016). Analisis perbandingan keuntungan dan risiko usaha perikanan rakyat sistem monokultur dan polikultur di Kabupaten Pangkep. Agro Ekonomi, 27(2), 136-149.

Sari L.K., Iskandar, Astuty S., (2011). Kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan rainbow merah (Glossolepis incisus weber) dan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) dengan penebaran yang berbeda pada polikultur sistem resirkulasi. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3(1), 49-57.

KKP. (2019). Kinerja pembangunan perikanan budidaya semester I tahun 2019 oleh Slamet Soebjakto. Jakarta

KKP. (2020). Target dan program prioritas perikanan budidaya tahun 2021. Jakarta: Siaran Pers.

Ditulis oleh: Admin